Sang Pemilik Cinta Sejati

by 06.39 1 komentar
Semilir angin menyejukkan raga
Menenangkan jiwa yang selalu bergejolak
Dedaunan memainkan gerakannya
Seakan-akan mengikuti gejolak yang kurasakan

Mungkin ini takdirnya
Mungkin ini yang harus kujalani
Menikmati jalan cahaya ditengah gejolak jiwa
Meniti jalan cinta bersama

Terwarnai dan Mewarnai karena Dia
Memantaskan diri karena Dia
Mengikhlaskan diri karena Dia
Dia lah sang penyejuk jiwa yang suci
Dia lah sang maha mempertemukan Cinta
Karena Dia lah sang pemilik hati ini

Dunia saya berubah ketika saya memasuki masa perkuliahan, dengan segudang perencanaan baru yang timbul dan banyaknya gejolak masa muda yang luar biasa. Ini lah dunia kampus, dunia perkuliahan yang menentukan kemana arah jalan yang akan kita pilih. Ketika itulah saya berhasil menembus dinding keras yang akhirnya menemukan sesuatu yang begitu indah karena bertemu dengan Dia Sang Pemilik. Tak terasa dunia ini serasa lebih indah dirasakan karena Dia. Dia sang pemilik hati, penyejuk jiwa yang suci, pemilik cinta sejati dan sang pemilik diri ini. Dia-lah yang paling dirindukan saat ini, yang dulunya menjadi nomor berapa di hati saya. Dia-lah yang selalu ada disetiap jejak yang tak pernah saya lihat, selalu menguatkan saya ketika saya jatuh akan banyaknya gejolak yang menyertai jalan kehidupan. Dia-lah yang selalu menarik saya ketika begitu banyak tangan yang mencengkeram dan berusaha mencelakai hidup saya. Saya pun semakin merunduk ketika menyadari, mengapa baru sekarang saya menoleh pada Dia. Pergolakan yang hebat ketika saya berusaha untuk lebih mengenal Dia. Dia-lah Rabbi, Malik dan Illah bagi saya, “Allah SWT”, sang pemilik hati ini yang merindukan bertemu dengan-Nya.
Sekitar 5 tahun yang lalu, saya pertama kali memasuki dunia kampus. Menjadi seorang mahasiswi di bidang kesehatan yang kala itu menjadi salah satu primadona program studi yang banyak diminati. Menjadi satu dari sekian ribu mahasiswa/i yang masuk di Universitas paling bergensi di Provinsi saya. Sangat Bahagia rasanya bisa memasuki dunia kampus, dengan banyaknya harapan yang timbul saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah kampus tercinta. Disanalah desiran cinta ini akhirnya bertemu.  Maha Suci Allah yang mempertemukan saya dengan para pencinta-Nya. Saya yang masih urak-urakan, cengengesan, kekanakan dan masih bodoh banget, tiba-tiba merasakan indahnya cahaya dari para pencinta-Nya. Sangat menyilaukan sehingga membuat saya malu untuk bisa menggapainya.
Di kampus saya, setiap mahasiswa baru wajib mengikuti pengembangan keagamaan, disana kita diajarkan mengaji yang baik dan benar, belajar fiqih dan membahas masalah-masalah islam terkini. Itu sangat baru bagi saya, yang selama sekolah 9 tahun masih sedikit terpapar dengan Jalan Cinta-Nya. Disanalah saya bertemu dengan Dia yang mencintai Dia. Begitu teduh, ramah, manis dan bersahaja layaknya para penduduk langit yang sering kita dengar dan baca. Tak lelah dan berbinar mata ini melihat Dia yang luar biasa, masih muda dan mengagumkan. Dia lah para kakak pertama bagi kami dalam mempelajari Islam. Senior yang luar biasa, mendidik kami menjadi pribadi rabbani, militan dan teladan bagi jama’ah. Itulah nikmatnya pengalaman saya saat pengembangan keagamaan tersebut, walaupun begitu banyak gejolak ketika mencoba meraih Cahaya-Nya. Cinta kepada-Nya yang tersalurkan kepada kami menjadi energi positif setiap kami mendapatkan riak kecil di dalam kehidupan. Inilah awal dari perjalanan Cinta saya pada Dia sang pemilik hati dimulai. Berdesir hati ketika mengingat jejak-jejak yang sudah ditinggalkan. Saya mencintai Dia melebihi apapun.
Inilah Hijrah yang saya rasakan, membersamai langkah saya pun memantaskan diri baik dari penampilan, akhlak, keilmuan serta kehidupan saya. Berusaha menjadi seseorang yang lebih baik sesuai yang sudah diajarkan Kekasih-Nya Rasulullah SAW. Menjadi seorang muslimah yang baik, menyemangati orang lain dan mewarnai orang lain untuk bisa bersama mencintai-Nya. Namun, semua itu tak semudah membayangkannya. Ketika saya mulai untuk mengubah penampilan, begitu banyak yang mengomentari baik dari setiap sudut pandang, cobaan pertama bagi saya. Ya namanya juga baru tahap awal kan. Hadapi dengan senyum saja dan perkataan yang baik. Alhamdulillah dapat bekal banyak untuk menghadapi ujian seperti ini dari para Kakak yang hebat, walaupun harus menumpahkan beberapa ember air mata. Harus tetap kuat, karena Dia sang pemilik hati ini sudah melekat di hati.
Membersamai langkah menuju Cahaya Cinta-Nya saya pun memasuki sebuah lembaga untuk bisa menguatkan jiwa dan sembari memantaskan diri kepada-Nya. Lembaga Dakwah Kampus, sarana hijrah saya yang kedua, yang tak kalah hebat kilauannya dengan istana permata di Syurga Allah SWT. Disanalah saya semakin banyak belajar memanajamen diri, memperbaiki diri, menjaga komunikasi dengan lawan jenis dan memperbaiki hijab yang selama ini tak pernah saya jaga. Rindu sekali dengan kebersamaan di Lembaga ini, hijrah saya tidaklah sendiri tapi bersama dengan para muslimah-muslimah anggun yang insya Allah penghuni syurga. Semakin lama di lembaga ini begitu banyak hikmah yang saya dapatkan, Dia tak pernah meninggalkan saya, dibersamai dengan para pencinta-Nya.  Namun tak lama titik hitam pun menyebar di hati, ujian hijrah pun kembali datang bersama dengan amanah cinta yang diemban. Memang benar, syaithan tak akan pernah menyerah sampai kita menjadi teman karibnya.
Kesibukan organisasi saya menjauhkan saya dengan para sahabat yang selalu menguatkan diawal perkuliahan. Sahabat yang selalu mempertanyakan saya yang tiba-tiba menjadi religius dan merasa tidak senang melihat apa yang saya lakukan. Jujur menjadi problematika buat saya. Saya pun sering menangis dan berusaha untuk memahamkan teman-teman saya. Berat nyatanya saat banyak orang yang tidak memahami apa yang sedang kita lakukan, namun disitulah sisi indahnya. Allah meminta kita untuk mendapatnya cahaya lebih dulu dengan memahami mereka sehingga kita yang sudah terwarnai akan mewarnai mereka. Indahnya ukhwah ketika kita memulainya bersama para sahabat yang selalu bersama kita. Ujian ini begitu berat saya rasakan, disini lah saya bertemu dengan sahabat sesungguhnya, yang membersamai cinta karena-Nya. Walaupun tak semua bisa saya warnai, namun ada setitik cinta yang bisa saya hiasi di kehidupan mereka para sahabat duniaku.
Pada masa ini saya juga terserang virus, ya anda benar virus memabukkan yang sangat menggoncang jiwa para muslimah. “Virus Merah Jambu”. Adanya si Dia yang berusaha mencari perhatianmu. Si Dia yang berusaha menghiasi hari-harimu dengan sapaan hangatnya, kata-kata indahnya bahkan senyuman yang selalu ditampilkannya. Astagfirullah, berat sekali rasanya. Kala itu saya masih semester 5 dan tidak fokus dalam kehidupan bersosial. Saya memang tipikal orang yang mudah beradaptasi/dekat dengan orang lain, peduli kepada orang lain dan aktif berorganisasi. Tak jarang saya harus bekerja dengan teman-teman saya yang mahasiswa bahkan sering bertegur sapa dengan mereka. Dalam pemikiran saya mereka adalah teman yang berharga, dikarenakan sering bertemu, berdiskusi bersama, bercanda bahkan terkadang saling mengingatkan dalam hal ibadah. Si Dia selalu memberikan perhatian lebih, sehingga lama kelamaan hati ini mendapat gangguan. Berat sekali kalau dibayangkan. Dengan berbekal banyak hikmah selama proses hijrah dan para sahabat syurga saya berusaha mengontrol hati ini untuk tidak keseluruhan berwarna merah jambu. Proses yang berat dan karena Dia sang pemilik hati ini selalu membersamai saya rasanya walau berat jadi terasa lebih ringan. Sahabat-sahabat shalihah saya selalu mengingatkan tentang bahayanya perhatian yang diberikan si Dia yang belum pantas untuk saya miliki. Saat itu saya merasakan dilema yang luar biasa, ini kali pertama bagi saya mendapatkan rasa yang berlebihan ini. Saya sering mempertanyakan kepada hati ini, salahkah saya merasakan debaran ini selain kepada Dia sang pemilik hati. Kembali saya bermunajat kepada-Nya, “Ya Allah, jika Dia yang kau takdirkan Untukku, Perkuatlah”, Do’a saya di setiap penghujung pertemuan saya dengan-Nya. Allah lah sang pemilik cinta sejati. Perhatian itu lama kelamaan hilang dengan seiring saya disibukkan dengan agenda cinta kepada-Nya.
Tak lama dari itu virus ini kembali menyebar pada saya yang masih belum sembuh dari virus sebelumnya. Kali ini berawal dengan seringnya aktivitas yang saya lakukan di sekitar perumahan di tempat saya tinggal. Perumahan yang saya tinggali banyak sekali mahasiswa/i yang menyewa rumah disana, tak jarang saya yang juga mahasiswi bergabung dengan mereka sebagai sarana dalam kehidupan bertetangga. Tak saya sadari ada seseorang yang Dia selalu memperhatikan saya, makin berat rasanya hati belum sembuh total. Ya Allah bantu hamba mu ini, Allah mengetahui sekali bahwa saya juga orang yang mudah terbawa perasaan. Sehingga saya pun diberikan ujian yang sama kembali. Cobaan berat di kala 2 tahun pertama hijrah, terkena virus merah jambu tidak hanya 1 kali. Si Dia sang tetangga baik hati, selalu rajin menyapa bahkan membantu saya saat beraktivitas, awalnya saya menganggap itu biasa karena kami bertetangga. Orang tua saya bahkan dekat dengan si Dia, malah sering saling berbagi cerita kehidupan. Saya masih menganggap itu biasa. Dikarenakan di komplek perumahan tersebut saya mahasiswi yang paling muda, saya sering menjadi bahan candaan para tetangga saya yang masih mahasiswa/i itu. Jadi rada risih kadang-kadang namun disanalah saya banyak menemukan hikmah. Suatu ketika tak disangka sebuah pesan masuk ke telepon genggam saya dan ternyata itu dari si Dia sang tetangga. Dia menanyakan kesibukan saya, ibadah-ibadah yang rutin saya lakukan dan mengatakan ingin belajar agama dengan saya. Saya pun merasa ada yang aneh dengan pesan yang dikirimkan oleh si Dia. Seingat saya pun, saya belum pernah memberikan nomor telepon genggam saya kepada si Dia. Saya pun membalas sewajarnya dan percakapan itu berlangsung sampai beberapa bulan. Selama saya berkomunikasi dengan si Dia, virus itu semakin menyebar kembali di setiap jengkal di hati saya. Astagfirullah, bisikan syaithan di hati ini membuat saya harus mendapatkan dosa yang sama berkali-kali. Lagi-lagi jatuh di lubang yang sama. Di kampus saya punya banyak sahabat yang bisa menarik saya kembali, namun jika di rumah terasa sendiri. Ya, hanya Allah yang bisa menolong dikala kita dalam kesendirian.
Ketika perhatian dan kedekatan si Dia dengan keluarga saya semakin menjadi, bahkan Dia sudah mengatakan hal yang menurut saya agak terkesan pribadi dengan ibu saya mengenai kedekatan kami, membuat saya semakin was-was dalam beraktifitas di sekitar rumah. Selama kami berkomunikasi saya hanya menganggap Dia hanya sebatas teman dan seseorang yang lebih tua untuk saya hormati. Ketika suatu ketika di hari ulang tahunnya Dia meminta saya untuk bertemu, berhubung rumah sangat berdekatan jadi saya pun mengiyakan. Ternyata Dia menyiapkan sebuah kado untuk saya, Masya Allah hati saya berdesir hebat. Apakah Dia yang Allah siapkan untukku, saya terpikir sekilas. Namun saya mencoba untuk berpikir jernih, saya pun  menolak hadiah tersebut, Dia tetap memberikan hadiah tersebut dan saya harus menerimanya. Dikarenakan desakan yang terus menerus dan saya tidak nyaman dengan sikap yang dia berikan saya pun menerima hadiah yang dia berikan. Semakin beban hati saya memikul semua ini. “Ya Allah, kuatkanlah hati ini untuk bisa tetap bersamamu”, do’a saya setiap dia memberikan perhatian lebih kepada saya.
Saya pun kemudian menceritakan kejadian ini kepada kakak yang menjadi tempat saya dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kakak yang sangat luar biasa, dengan kata-kata indah menasehati saya.  Dengan pelan dan lembut kakak mengatakan “de, menurut ade gimana? Apakah dengan perhatian yang Dia berikan mengganggu kehidupan ade atau malah sebaliknya. De, komunikasi yang sedang ade lakukan sudah tidak seharusnya untuk diperpanjang lagi. Ade cintakan sama Allah SWT, mau masuk syurganya Allah kan. Kalau semakin lama ade membiarkan komunikasi dengan Dia yang belum tentu menjadi seseorang pendamping yang sah bagi ade, nantinya akan menjadi timbul fitnah de. Kakak yakin, ade sudah paham apa yang kakak sampaikan. Ingat de, kalau misalkan memang dia jodoh yang Allah siapkan untuk ade, Insya Allah pasti akan dipertemukan. Jadi ade kaka yang shalihah, pantaskan dirimu sehingga Allah akan menyiapkan seseorang yang pantas untukmu, ade shalihah kk”. Perkataan kakak berwajah teduh yang mengetuk hati saya yang berkali-kali jatuh di lubang yang sama. Semenjak hari itu saya meminta kepada Dia untuk tidak mendekati saya dan bersikap lebih dewasa apabila memang serius dengan saya. Saya pun berusaha untuk tidak bertemu langsung dengan Dia. Sangat sulit karena rumah kami sangat dekat. Memang benarlah Allah lah sang pemilik hati Dia dan diri saya. Allah menjauhkan kami yang belum saling memantaskan diri secara perlahan. Nikmat cinta kepada Allah jauh lebih besar daripada cinta kepada manusia, saya akui itu dengan kesadaran bahwa hati ini akan sembuh dengan Cinta Sejati yang sebenarnya yaitu Cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Terima kasih kakak syurgaku yang selalu membersamai langkah hijrahku kepada cahaya cinta-Nya.
Saat ini saya semakin  memantaskan diri untuk menjadi insan yang kuat, militan dan menjadi seseorang yang pantas menemuimu, Rabbku. Sembari melangkah dengan proses hijrah saya yang sudah saya rasakan selama lebih kurang 5 tahun membuat saya menjadi lebih berhati-hati dalam melangkah. Begitu banyak gejolak yang akan menerpa di setiap langkah yang saya pilih. Jalan cinta memang harus diperjuangkan dan hanya orang-orang yang pantaslah yang dapat bertemu dengan sesuatu yang indah di penghujung jalan cinta tersebut. Persiapkan langkahmu dengan pasti, hanya orang-orang pilihan yang dapat melaluinya dengan penuh usaha dan ikhtiar.
Saudara shalih/ah yang dicintai Allah, kadangkala kita berpikir bahwa hati ini bisa kita yang mengaturnya, terkadang kita merasakan pilihan yang sudah kita tetapkan menjadi pilihan yang terbaik untuk kita dan juga kita merasa pantas untuk mendapatkan sesuatu yang kita rasa seharusnya kita dapatkan. Yakinlah, hanya Allah SWT yang dapat mengatur hati ini, membolak-balikkan hati ini atas kehendaknya, maka berprasangka baiklah dan merasa bahwa Allah selalu mengawasi kita di setiap keadaan apapun maka hati kita akan selalu terlindungi dari segala hal yang dapat mewarnainya. Hanya cinta Allah lah yang pantas mewarnai hati kita. Pilihan, pilihan Allah merupakan pilihan terbaik yang harusnya kita yakini, tetaplah berusaha dan berikhtiar dalam menentukan pilihan, Insya Allah Istikharah cinta akan memberikan hasil yang indah. Memantaskan diri, setiap insan wajib melakukan hal ini untuk bisa mendapatkan tempat terindah serta janji terindah yang sudah Allah siapkan untuk kita. Percayalah akan cahaya Dia sang Pemilik Cinta Sejati “Allah SWT”.

Kalimat Motivasi

Yakinlah, Hanya Allah sang pemilik Cinta Sejati, Sang Pemilik Hati dan Pemilik Setiap Pilihan. Pantaskan Diri agar menjadi seseorang yang pantas bertemu dengan-Nya, hijrah adalah jalan cinta yang sebenarnya dan takdir Allah merupakan ketetapan yang nyata yang telah Allah persiapkan dengan Indah untuk kita yang Memilih di Jalan-Nya.

Proses Hijrah

Saya pertama kali hijrah sekitar akhir tahun 2010, melalui pembinaan keagamaan di kampus dan mengikuti lembaga dakwah kampus. Kemudian saya juga melanjutkan dengan proses halaqah, mengikuti sunnah Rasulullah saat awal menyebarkan islam, yaitu melakukan halaqah/pembinaan seperti di rumah sahabat Al Arqam bin Abil Arqam. Pengalaman spiritual yang sangat luar biasa saya rasakan, mendapatkan banyak hikmah dan nikmat. Dengan Cahaya Allah ini lah saya dapat meniti jalan cinta secara perlahan dan semakin memantaskan diri menjadi insan yang rabbani.

Jendela Cahaya Arsy

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

1 komentar:

  1. ada secarcik hijrah yang harus dikomitmen kan. karena selalu ada cinta yang menguatkan pada tapak yang terkuat azzam. karena Allah selalu menguji ditingkat kelemahan kita. hamassah ilallah eka... ayuk menulis dan baca buku ... heheh

    BalasHapus