Pernahkah Anda bertemu orang lanjut usia yang mengeluh bahwa ia sudah bekerja keras siang malam namun tak juga berkecukupan hidupnya? Atau orang tua yang sudah berusaha mencukupkan kebutuhan anak2nya baik makanan, pakaian, bahkan telpon selular dan kendaraan namun di hari tuanya malah ditelantarkan oleh mereka?
Terkait kondisi mereka (mungkin juga kita).Mungkin hadits ini dapat dijadikan renungan:
Dari Zaid bin Tsabit ra. berkata: Kami mendengar Rasulullah SAW bersabda,
(( مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ
“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“.
Ada sebuah kisah tentang Sya'ban r.a. salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang amat rajin datang ke halaqah iman Rasulullah SAW setiap subuh walaupun rumahnya amat jauh. Kebiasaan yang unik lainnya dari Sya’ban yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai, beliau selalu beritikaf dipojok depan masjid. Beliau mengambil posisi di pojok bukan supaya mudah senderan atau mau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.
Kebiasaan yang unik ini sudah dipahami dan diketahui oleh sahabat lain bahkan oleh RasululLah SAW, bahwa Sya’ban radhiallahu anhu selalu berada di posisi tersebut termasuk saat sholat berjamaah.
Pada suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai Rasulullah SAW tidak mendapati bahwa Sya’ban ra. Tempatnya kosong. Rasul SAW pun bertanya kepada jamaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban? Namun tak seorangpun sahabat sehalaqahnya yang melihat Sya’ban ra.
Sholat subuh pun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban, namun beliau belum juga datang. Karena khawatir sholat subuh kesiangan, Rasulullah SAW memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah tanpa Syaban ra.
Seusai sholat subuh Rasul bertanya kepada anggota halaqah/pengajian beliau: “Apa ada di antara kalian yang mengetahui kabar dari Sya’ban?”
Lagi, tak ada seorangpun yang menjawab. Rasulullah SAW bertanya lagi, “apa ada diantara kalian yang mengetahui di mana rumah Sya’ban?”. Akhirnya, kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban. RasululLah SAW yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban meminta diantarkan ke rumahnya.
Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Rasul dan teman2 halaqah Sya'ban (mungkin Rasulullah juga ingin memberi pelajaran pada sahabat2 lainnya). Rombongan sampai ke sana saat waktu afdhal untuk sholat dhuha (kira-kira 2 jam perjalanan). Sampai di depan rumah tersebut Rasulallah SAW mengucapkan salam dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut.
“Benarkah ini rumah Sya’ban?” Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya.
“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut. “
"Bolehkah kami menemui Sya’ban, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?” .
Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban radhiallahu anhu menjawab:
“Beliau telah meninggal dunia tadi pagi”
Innalilahi wa inna ilaihirajiun…Subhanallah, satu – satunya penyebab dia tidak solat subuh berjamaah dan pergi halaqah pengajian adalah karena ajal sudah menjemputnya….
Kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rasul SAW:
“Ya Rasulallah, ada sesuatu yang masih menjadi pertanyaan bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya ia berteriak tiga kali dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”.
“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasulullah SAW.
"Dalam teriakannya ia berucap tiga kalimat:
“Aduuuh kenapa tidak lebih jauh…”
“Aduuuh kenapa tidak yang baru… ”
“Aduuuh kenapa tidak semua…”
Rasulullah SAW melantunkan ayat yang terdapat dalam surat ke-50, Surat Qaaf ayat 22 yang artinya: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”
Tafsir Alquran Surat Qaaf ayat 22 yaitu menjelaskan saat Sya’ban radhiallahu anhu dalam keadaan sakratul maut perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Bayangkan, dalam waktu sekejap perjalanan hidup kita ditampakkan dan semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala , “….maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam (QS Qaaf : 20)”
Apa yang dilihat oleh Sya’ban ra.(atau orang yang sakratulmaut) tidak bisa disaksikan oleh yang lain.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam Surat Qaaf ayat 22,
Pertama, dalam pandangannya yang tajam itu ia melihat semua perbuatannya ketika ia pulang-pergi dari Masjid untuk sholat berjamaah dan mengikuti halaqah subuh. Masih ingatkan, rombongan Nabi ketika menuju rumah Sya’ban dengan perjalanan jalan kaki dari ba'da subuh sampai waktu dhuha? Sekitar 2 jam, tentu bukanlah jarak yang dekat meski dengan naik onta sekalipun. Dalam penglihatan yang tajam itu pula Sya’ban diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkah nya ke Masjid untuk shalat dan halaqah dan Ia melihat surga sebagai ganjarannya. Saat melihat itu ia berucap: “Aduuuh kenapa tidak lebih jauh…” Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan surga yang didapatkan lebih indah.
Kedua, dalam adegan dimana semua perbuatan kita diperlihatkan. Sya’ban diperlihatkan ganjaran dan perbuatannya ketika melihat seseorang yang terbaring kedinginan, ketika dalam perjalanan menuju masjid, kemudian Ia membuka baju yang paling luar dan memberikan pakaian terluar itu kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama-sama ke masjid melakukan sholat berjamaah. Orang itu pun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan melakukan sholat berjamaah.Dalam adegan dimana semua perbuatan dan ganjaran kita diperlihatkan. Sya’ban pun kemudian melihat ganjaran berupa surga yang sebagai balasan memakaikan baju luar jeleknya kepada orang tersebut. Itulah mengapa Syaban berteriak “Aduh, kenapa tidak yang baru… ” Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban. Jika dengan baju jelek saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.
Ketiga, Selanjutnya kalimat yang ketiga. “Aduuuh kenapa tidak semua…”. Berikutnya Sya’ban melihat lagi suatu adegan saat ia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Bagi yang pernah ke tanah suci (untuk haji, umroh atau bekerja) sudah tentu tahu sebesar apa ukuran roti disana (Lebih besar 3 kali dari ukuran rata-rata roti Indonesia). Ketika ia baru saja hendak memulai sarapan, munculah seorang pengemis di depan pintu yang meminta diberikan sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal tersebut, Sya’ban merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun ia bagi dua. Kemudian mereka makan bersama-sama. Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban dengan surga yang indah. Itulah mengapa ia berteriak “Aduh, kenapa tidak semua…” Sya’ban kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti dan susu itu kepada pengemis tersebut, tentulah dia akan mendapat surga yang jauh lebih indah.
Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakaratul mungkin akan menyesal. Kita terlalu cari dunia, dan dunia pun tak cukup2 kita raih. Saat waktu shalat atau pergi halaqah pengajian tiba, kita masih sibuk cari uang, kalaupun akan pergi masih bermalas-malasan dan tak merasa bersalah jika tiba dengan keterlambatan yang signifikan. Kita dan Sya'ban sama-sama merindukan surga tapi....aduh...betapa jauhnya amal kita dengan amal Sya'ban...ia hadir sebelum shalat subuh dan halaqah pengajian dimulai padahal rumahnya 2 jam lebih dari masjid Nabi! Layakkah kita meminta surga dengan tingkat kemalasan yang parah dalam diri kita?
Ayolah Bro and Sis fii sabilillah...
Tepati janji kita pada Allah: Asyahadu an laa ilaaha illaLlah...aku berjanji bahwa tiada sembahan kecuali Allah. (Aku tak akan menyembah uang, pangkat, jabatan dan popularitas, hanya menyembah-Mu saja).
Datanglah tepat waktu dan bersemangat saat shalat dan juga acara halaqah pengajian kita. Setelah itu, kembalilah bekerja dengan giat. Uang, harta dan surga insyaAllah akan menjemput kita. Amiin.
#gembira di pengajian student Usyd, UTS dan UWS al hijrah Mosque, Tempe, Sydney Uya' Lombok
Sumber : dr.Rosaria Indah, MSc
Dari Zaid bin Tsabit ra. berkata: Kami mendengar Rasulullah SAW bersabda,
(( مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ
“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“.
Ada sebuah kisah tentang Sya'ban r.a. salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang amat rajin datang ke halaqah iman Rasulullah SAW setiap subuh walaupun rumahnya amat jauh. Kebiasaan yang unik lainnya dari Sya’ban yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai, beliau selalu beritikaf dipojok depan masjid. Beliau mengambil posisi di pojok bukan supaya mudah senderan atau mau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.
Kebiasaan yang unik ini sudah dipahami dan diketahui oleh sahabat lain bahkan oleh RasululLah SAW, bahwa Sya’ban radhiallahu anhu selalu berada di posisi tersebut termasuk saat sholat berjamaah.
Pada suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai Rasulullah SAW tidak mendapati bahwa Sya’ban ra. Tempatnya kosong. Rasul SAW pun bertanya kepada jamaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban? Namun tak seorangpun sahabat sehalaqahnya yang melihat Sya’ban ra.
Sholat subuh pun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban, namun beliau belum juga datang. Karena khawatir sholat subuh kesiangan, Rasulullah SAW memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah tanpa Syaban ra.
Seusai sholat subuh Rasul bertanya kepada anggota halaqah/pengajian beliau: “Apa ada di antara kalian yang mengetahui kabar dari Sya’ban?”
Lagi, tak ada seorangpun yang menjawab. Rasulullah SAW bertanya lagi, “apa ada diantara kalian yang mengetahui di mana rumah Sya’ban?”. Akhirnya, kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban. RasululLah SAW yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban meminta diantarkan ke rumahnya.
Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Rasul dan teman2 halaqah Sya'ban (mungkin Rasulullah juga ingin memberi pelajaran pada sahabat2 lainnya). Rombongan sampai ke sana saat waktu afdhal untuk sholat dhuha (kira-kira 2 jam perjalanan). Sampai di depan rumah tersebut Rasulallah SAW mengucapkan salam dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut.
“Benarkah ini rumah Sya’ban?” Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya.
“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut. “
"Bolehkah kami menemui Sya’ban, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?” .
Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban radhiallahu anhu menjawab:
“Beliau telah meninggal dunia tadi pagi”
Innalilahi wa inna ilaihirajiun…Subhanallah, satu – satunya penyebab dia tidak solat subuh berjamaah dan pergi halaqah pengajian adalah karena ajal sudah menjemputnya….
Kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rasul SAW:
“Ya Rasulallah, ada sesuatu yang masih menjadi pertanyaan bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya ia berteriak tiga kali dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”.
“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasulullah SAW.
"Dalam teriakannya ia berucap tiga kalimat:
“Aduuuh kenapa tidak lebih jauh…”
“Aduuuh kenapa tidak yang baru… ”
“Aduuuh kenapa tidak semua…”
Rasulullah SAW melantunkan ayat yang terdapat dalam surat ke-50, Surat Qaaf ayat 22 yang artinya: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”
Tafsir Alquran Surat Qaaf ayat 22 yaitu menjelaskan saat Sya’ban radhiallahu anhu dalam keadaan sakratul maut perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Bayangkan, dalam waktu sekejap perjalanan hidup kita ditampakkan dan semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala , “….maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam (QS Qaaf : 20)”
Apa yang dilihat oleh Sya’ban ra.(atau orang yang sakratulmaut) tidak bisa disaksikan oleh yang lain.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam Surat Qaaf ayat 22,
Pertama, dalam pandangannya yang tajam itu ia melihat semua perbuatannya ketika ia pulang-pergi dari Masjid untuk sholat berjamaah dan mengikuti halaqah subuh. Masih ingatkan, rombongan Nabi ketika menuju rumah Sya’ban dengan perjalanan jalan kaki dari ba'da subuh sampai waktu dhuha? Sekitar 2 jam, tentu bukanlah jarak yang dekat meski dengan naik onta sekalipun. Dalam penglihatan yang tajam itu pula Sya’ban diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkah nya ke Masjid untuk shalat dan halaqah dan Ia melihat surga sebagai ganjarannya. Saat melihat itu ia berucap: “Aduuuh kenapa tidak lebih jauh…” Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan surga yang didapatkan lebih indah.
Kedua, dalam adegan dimana semua perbuatan kita diperlihatkan. Sya’ban diperlihatkan ganjaran dan perbuatannya ketika melihat seseorang yang terbaring kedinginan, ketika dalam perjalanan menuju masjid, kemudian Ia membuka baju yang paling luar dan memberikan pakaian terluar itu kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama-sama ke masjid melakukan sholat berjamaah. Orang itu pun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan melakukan sholat berjamaah.Dalam adegan dimana semua perbuatan dan ganjaran kita diperlihatkan. Sya’ban pun kemudian melihat ganjaran berupa surga yang sebagai balasan memakaikan baju luar jeleknya kepada orang tersebut. Itulah mengapa Syaban berteriak “Aduh, kenapa tidak yang baru… ” Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban. Jika dengan baju jelek saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.
Ketiga, Selanjutnya kalimat yang ketiga. “Aduuuh kenapa tidak semua…”. Berikutnya Sya’ban melihat lagi suatu adegan saat ia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Bagi yang pernah ke tanah suci (untuk haji, umroh atau bekerja) sudah tentu tahu sebesar apa ukuran roti disana (Lebih besar 3 kali dari ukuran rata-rata roti Indonesia). Ketika ia baru saja hendak memulai sarapan, munculah seorang pengemis di depan pintu yang meminta diberikan sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal tersebut, Sya’ban merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun ia bagi dua. Kemudian mereka makan bersama-sama. Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban dengan surga yang indah. Itulah mengapa ia berteriak “Aduh, kenapa tidak semua…” Sya’ban kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti dan susu itu kepada pengemis tersebut, tentulah dia akan mendapat surga yang jauh lebih indah.
Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakaratul mungkin akan menyesal. Kita terlalu cari dunia, dan dunia pun tak cukup2 kita raih. Saat waktu shalat atau pergi halaqah pengajian tiba, kita masih sibuk cari uang, kalaupun akan pergi masih bermalas-malasan dan tak merasa bersalah jika tiba dengan keterlambatan yang signifikan. Kita dan Sya'ban sama-sama merindukan surga tapi....aduh...betapa jauhnya amal kita dengan amal Sya'ban...ia hadir sebelum shalat subuh dan halaqah pengajian dimulai padahal rumahnya 2 jam lebih dari masjid Nabi! Layakkah kita meminta surga dengan tingkat kemalasan yang parah dalam diri kita?
Ayolah Bro and Sis fii sabilillah...
Tepati janji kita pada Allah: Asyahadu an laa ilaaha illaLlah...aku berjanji bahwa tiada sembahan kecuali Allah. (Aku tak akan menyembah uang, pangkat, jabatan dan popularitas, hanya menyembah-Mu saja).
Datanglah tepat waktu dan bersemangat saat shalat dan juga acara halaqah pengajian kita. Setelah itu, kembalilah bekerja dengan giat. Uang, harta dan surga insyaAllah akan menjemput kita. Amiin.
#gembira di pengajian student Usyd, UTS dan UWS al hijrah Mosque, Tempe, Sydney Uya' Lombok
Sumber : dr.Rosaria Indah, MSc

0 komentar:
Posting Komentar