Hidayah, saya dapat hidayah. Saya meyakinkan itu didalam hati. Betapa jeleknya perilaku saya sebelum menjadi seperti ini. Orang bilang ini yang namanya HIJRAH. Dahulu, begitu banyak kenakalan dan perilaku yang saya tidak sadar bahwa itu tidak boleh saya lakukan. Mengingat itu saya malu pada Allah. Menginjak bangku sekolah selama 12 tahun, sangat sedikit cahaya islam memasuki hati saya. Bahkan untuk ibadah wajib saja berat untuk melaksanakannya. Ya Allah, ampunilah saya.
Saya tak menyangka bisa seperti sekarang, cahaya Allah tak pernah redup menghiasi setiap saya melangkah, sungguh saya sangat bersyukur. Mengingat kronologi saya hijrah begitu indah bahkan ada kalanya saya menyesali kenapa lama sekali saya baru mengenal islam. Hijrah saya berawal di bangku perkuliahan. Masa yang penuh dengan perjuangan, yang pada masa itu saya bisa merasakan perjuangan hidup sesungguhnya. Di kampus saya, setiap mahasiswa baru wajib mengikuti kegiatan keagamaan untuk pendamping mata kuliah Agama. Pertama kali sudah langsung ditawari dengan indahnya Islam. Sangat berbeda dengan apa yang saya pikirkan.
Saya mengikuti setiap fase yang harus diikuti oleh mahasiswa baru. Jujur saya masih polos dan lugu. Setiap berjumpa senior pasti bawaannya takut saja, jadinya saya selalu menghindar. Dan Hijrah saya dimulai dengan seorang kakak di Mushola Kampus tercinta bersama teman-teman yang luar biasa. Tanpa tempaan kakak yang luar biasa, teman yang tak pernah lupa mengingatkan. Sangat, Sangat, Sangat berbeda kehidupan saya setelah bertemu mereka.
5 bulan saya telah mengikuti kegiatan itu, begitu banyak perubahan dalam diri saya. Mendapatkan kakak mentor yang luar biasa, tak pernah lelah dengan perilaku-perilaku adik-adiknya yang sering tidak disiplin. Wah kakak, tanpa bimbinganmu mungkin saya tak selancar ini mengaji. Saya bersyukur mendapatkan kakak mentor yang luar biasa. Suatu ketika mentor saya mengatakan bahwa untuk kedepan beliau akan digantikan dengan kakak yang lain. Kamipun merasa sedih namun kakak mentor saya berpesan untuk terus semangat belajar dan in sha Allah kami akan mendapatkan banyak ilmu dari kakak tersebut. Kakak, sungguh aku sangat merindukanmu saat ini.
Pertemuan pertama kami dengan kakak mentor yang baru, masih dalam kegiatan mata kuliah Agama yang kami wajib ikuti. Pertemuan sudah diagendakan di mushola fakultas pada sore hari. Jujur saya sangat gugup memikirkan mentor kali ini. Berusaha untuk meyakinkan diri in sha Allah niatnya untuk belajar. Saat memasuki kawasan mushola, saya mencari kakak tersebut, tapi ada beberapa orang, saya bingung kakak yang mana. Namun, tampaklah kakak berwajah teduh dan manis tersenyum kepada saya. Saya pun mendekatinya dan bertanya apakah kakak mentor kami yang bernama kak wisda. Beliau pun mengiyakan, pandangan pertama jujur saya sangat terpesona dengan beliau. Tutur beliau yang santun, halus, lembut, pakaiannya yang cantik terlihat anggun. Senyum selalu terhias di wajahnya. Ya Allah, terima kasih sudah mempertemukan saya dengan “Yah” pertama saya.
Ya benar, beliau adalah “Yah” pertama saya. Seorang Murabbiyah yang santun, lembut, cantik, anggun dan sangat perasa. Saya masih mengingat telah sebulan kami bersama, suatu ketika beliau mengatakan kepada kami bahwa hari ini kami sudah memasuki fase Halaqah, masa untuk kami dapat bertarbiyah dengan sebenar-benarnya. Jujur, saya tidak tau apa-apa pada saat itu mengenai halaqah. Tapi saya sangat senang bisa lama-lama bersama beliau. Murabbiyah saya ini tipikal orang yang tidak membosankan, sehingga saya pun rajin datang pada setiap halaqah. Saya pun sangat senang karena beliau selalu bisa memenangkan hati saya. Kakak, saya rindu ketika kita duduk berdua, engkau menguatkan hatiku bahwa dakwah ini indah walau banyak rintangan. Kakak, engkau selalu memelukku bahkan mengenggam erat tanganku saat beban dakwah semakin memberatkan langkahku. Tak terasa sudah beberapa bulan saya bersama Murabbiyah saya ini, melingkar di setiap minggu, berpindah dari satu taman ke taman yang lain, berpindah dari satu mushola ke mushola yang lain, berpindah mesjid, bahkan ada kalanya engkau mentraktir kami untuk makan. Kebersamaan saat itu membuat saya semakin bersyukur saya terus mendapat cahaya Allah sampai sekarang.
Namun, saudari-saudari syurgaku semakin sedikit. Dari awalnya kami bertujuh, kemudian kami hanya tinggal dua orang. Murabbiyah saya tak pernah lelah menanyakan teman-teman yang tidak hadir bahkan selalu mendo’akan mereka. Murabbiyah saya ini sangat perasa. Dalam do’anya selalu terlihat butiran air mata yang jatuh ketangannya. Sungguh, moment seperti itulah yang membuat saya pun menjadi sangat perasa. Tak ayal, saya pun menjadi mutarabbi yang juga melankolis. Air mata do’a tersebut melembutkan hati saya.
Teteh, Saya rindu teteh... “Yah” pertama saya, “Yah” yang selalu saya buat menangis karena tingkah laku saya yang egois, “Yah” yang selalu tersenyum, “Yah” yang selalu lembut. “Yah” yang selalu ada di saat Mutarabbinya membutuhkannya.
Teteh, saya rindu... Pertemuan denganmu sudah 4 tahun yang lalu, namun senyumanmu, wajah teduhmu dan kata-kata indahmu masih melekat erat dihati kami teh...
Teteh, maafkan kami teh.. Kami Rindu Teteh. Sangat, Sangat, Sangat Rindu.
Allah menganugerahkan saya bertemu dan belajar pada Bidadari Syurga yaitu Murabbiyah-Murabbiyah Luar Biasa.
Dari Merekalah saya mendapat Jalan Cahaya, Jalan Tarbiyah dan Jalan Cinta.
Banda Aceh, 7 Desember 2015
Eka Kurnia Sari
“Yah”ku yang Perasa
Jendela Cahaya Arsy
DeveloperCras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

Huaaa kak ekaaa iyaaa rindu x sama teteh
BalasHapusHuaaa kak ekaaa iyaaa rindu x sama teteh
BalasHapus