Butiran Jernih untuk Murabbiyahku

by 04.37 0 komentar
Saya tak mampu menahan butiran jernih yang turun dari mata ini.
Saya tak mampu menahan sesak di dada ini.
Saya tak mampu berpisah darimu kakak.
Itulah yang saya rasakan saat engkau mengatakan bahwa tugasmu sudah selesai dan peranmu akan digantikan oleh orang lain.
Cinta ini sudah tumbuh kakak, tumbuh mekar disaat-saat terakhir,
disaat saya mulai merasakan nikmatnya Tarbiyah.
Kakak, darimu saya belajar sangat banyak.
Kegigihanmu melewati ratusan kilometer hanya untuk mengisi halaqah kami.
Selalu siap sedia mengisi halaqah kami. Menegur kami yang hapalannya macet luar biasa. Tak pernah bosan, apalagi lelah dalam mengevaluasi mutabaah yaumiyah kami.
Pernah ketika suatu hari saat halaqah wajahmu tampak pucat kakak tapi senyum tak pernah hilang dari raut wajahmu kak. Engkau dalam keadaan sakit namun sempat mengisi halaqah kami. Engkau sempatkan walaupun hanya sedikit dari kami yang hadir. Maafkan kami kakak yang selalu telat hadir, datang dengan hapalan yang sama setiap minggunya, yang selalu cengegesan saat dinasehati kakak.

Kakak, engkau bidadari syurga yang Allah berikan kepada kami, kami mencintaimu kakak, kakak kami rindu. Kakak, kami ingin bertemu denganmu.

Detik demi detik yang saya lalui denganmu dalam mempelajari islam, masih teringat jelas dalam pikiranku kakak. Setiap pertemuan di mesjid putih, agenda manjili, agenda riyadhah, agenda tafakur alam. Kakak, kami rindu setiap moment denganmu. Cinta ini semakin mekar kakak.

Indahnya ukhwah itulah yang selalu kakak tekankan kepada kami. Kejarlah Cinta Allah SWT, Bacalah Sirah Nabawiyah dan pahamilah bersama dengan sahabat-sahabat syurga. Dimanapun kamu berada, tetaplah di jalan tarbiyah. Perbanyak hapalan, itulah penolongmu dik.

Kakak, saya malu bertemu denganmu, hapalan saya masih sedikit, saya yang paling anda tegur di setiap halaqah. Saya ingat sekali kakak, setiap mau setoran saya selalu menunduk saat engkau menanyakan sudah sampaikan manakah hapalan saya. Jujur saya malu kakak. Begitu banyak kata-kata motivasi untuk menghapal yang kakak berikan kepada kami.

Engkau mengibaratkan kami sebagai bunga. Bunga mawar adalah sebutan untuk saya. Mawar yang berduri, berwarna merah dan mengeluarkan bau harum. Kakak, begitu sarat makna sebutanmu untuk kami kakak. Menjadi Muslimah tangguh, kuat, menebar kebaikan, menjaga lisan, bersemangat dan menjadi Hafidzah itulah pesanmu untukku kakak. Kakak, saya merindukanmu.

Kakak, walaupun kita sudah berjauhan. Beratus-ratus kilometer memisahkan kita kakak. Saya tidak akan melupakan sedikitpun setiap pertemuan kita kakak. Pertemuan indah yang membuat saya masih bisa berdiri kokoh sampai sekarang. Pertemuan yang diniatkan karena Allah. Pertemuan yang selalu meningkatkan keimanan. Pertemuan yang selalu membuat hati berdebar. Pertemuan yang selalu dinantikan. Kakak saya merindukan taman syurga kita.

Kakak, terima kasih telah membimbingkan dan menguatkan saya di jalan ini. Tak pernah melepaskan saya, selalu mengingatkan saya. Tarbiyah Cinta telah melekat dihati saya. Hati saya telah berlabuh dijalan Dakwah. Hati saya semakin mencintai Halaqah. Butiran jernih selalu jatuh setiap mengingat kebersamaan kita kakak.

Kakak, Ana Uhibukkifillah. Butiran jernih untuk “Yah” ku tak mampu kubendung,
Butiran jernih ungkapan rasa  syukur, cinta dan ukhwah yang sudah melekat di hati ini.
Nikmatnya Iman bersama Bidadari – Bidadari Syurga
                       
Banda Aceh, 7 Desember 2015
Mutarabbi yang Melankolis

Jendela Cahaya Arsy

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar