Not Falling In Love On The First Sight

by 08.19 0 komentar
Falling in love, sebutan buat para anak muda yang lagi kasmaran, serasa dunia penuh dengan segala hal yang berwarna pinky... hehehehehe .... Segala hal selalu diliputi rasa cemas, kalau ketemu bawaannya selalu nunduk dan pura2 menghindar (jaga pandangan) dan pasti jadi salah tingkah,  Itu sudah khasnya. Begitulah, asam manis masa muda.
Tapi, apa mau dikata pengalaman yang saya alami kelihatan seperti falling in love, namun ada cerita dibalik itu...
Masa kuliah, transisi dari pelajar menjadi mahasiswa, itulah yang tengah saya alami sekarang. Penuh liku-liku, perjuangan, banyak godaan, pokoknya banyak hal yang berubah saat kita kuliah. Saat ini saya sedang mencicipi masa-masa semester akhir di salah satu universitas di Aceh bidang kesehatan, makanya gag jauh-jauh, kampus-rumah sakit-rumah. Semester akhir dengan segala aktivitas kuliah yang super sibuk, dari pagi sampai pagi full, hehhehehe maksudnya dari pagi ampe malam. Segudang aktivitas bermanfaat dan tidak bermanfaat dilakukan.
Mahasiswa sering identik dengan yang namanya melanggar aturan, aturan kampus, aturan rumah, aturan dimana aja, pasti sering dilanggar. Apalagi aturan yang satu ini, banyak banget yang ngelanggar. Aturan lalu lintas, ada yang nerobos lampu merah, gag pake helm, membawa penumpang melebihi kapasitas, sepeda motor/mobil yang gag seharusnya dibawa jalan-jalan, pokoknya banyak deh kerjaan mahasiswa yang sering bikin Bapak/Ibu polisi kewalahan. Masya Allah... Saatnya taubat. Please Allah, ampuni kami ini.  Maafin kami ya Bapak/Ibu Polisi yang baik hati.
Seperti mahasiswa yang lain, saya juga termasuk yang lumayan sering kucing-kucingan dengan aturan dalam lalu lintas. Nyadar sih sebenarnya, tapi yaa, mau gimana lagi, lagi kepepet bin darurat ni. Bahaya dan gag baik untuk dikerjakan. Tapi ada beberapa kejadian yang saya alami yang bikin hati ini dag dig dug, tidur gag nyaman, makan gag enak, minum gag terasa dan bikin senyum-senyum sendiri. Hehheehehehhe.. (kayaknya beneran falling in love ni) 
Suatu cerita yang membuat saya gag akan ngelupainnya dan kasih pencerahan buat hidup saya. Cie, Alhamdulillah 
Let’s  read it 
Semester akhir, masa paling dikatakan gawat tapi nyantai. Dikatakan gawat karena hanya 7 Huruf yang bikin Dag Dig Dug, keringat dingin alias Gawat Darurat, yang lain dan tak bukan “S K R I P S I” , 7 Huruf yang menjadi penghubung untuk meraih gelar Sarjana yang uda dinanti selama 4 tahun perjuangan. Tapi kok nyantai ya, bingung juga sebenarnya, kok bisa santai, sebenarnya dikatakan santai karena semua blok mata kuliah udah abis jadi gag da beban lagi. Alhamdulillah , Tapi beban terberat nya adalah makhluk yang satu ini.
Huaaaa S K R I P S I.
Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya tiba saat penelitian untuk SKRIPSI. Kebetulan tempat penelitian saya terletak di sebuah desa pinggiran kota tempat saya merantau, yang jalan menuju kesana bisa dikatakan aman dari yang namanya pihak yang berwajib alias Bapak/Ibu Polisi beserta jajarannya. Banyak jalan pintas yang dilalui untuk menghindari dari bapak/ibu polisi baik hati yang selalu mejeng di jalan-jalan besar untuk menertibkan lalu lintas dan menegur masyarakat yang melakukan kesalahan dalam berkendara. Sebenarnya, jalan ke tempat penelitian saya cukup jauh dan melewati jalan dengan 1 lampu lalu lintas, tepat seperti yang anda pikirkan jadi kemungkinan 50:50 ada bapak/ibu polisi disana, jadi kemungkinan untuk bertemu cukup besar dan beresiko. Namun, akhir-akhir ini bapak/ibu polisi tidak terlihat di daerah tersebut, oleh karena itu rasa aman meliputi hati para mahasiswa yang doyan ngelanggar peraturan. Bahaya, penyakit melanggar aturan mahasiswa ini sudah tingkat kronis. Hehehehe.
Penelitian hari pertama dilakukan siang hari, dengan percaya diri saya ke desa dengan mengendarai sepeda motor komplit dengan tidak pakai helm, alasannya gerah dan gag da polisi di sekitar jalan menuju ke Desa. Dengan santainya saya dan ada beberapa teman  yang membantu melakukan penelitian di desa tersebut. Pada saat pulangnya, saya melewati sebuah jalan yang kebetulan ada mobil polisi lagi mejeng disamping sebuah jalan dekat sebuah restoran. Otomatis, saya mulai cemas. Saya coba aja untuk tenang dan pura-pura tidak melihat. Dan ternyata pak polisinya lagi makan di restoran. Alhamdulillah, jadi gag mungkin nilang.  Bahaya 1 terlewati.
Sore harinya saya pergi ke kota untuk membeli barang keperluan penelitian yang masih dibutuhkan dan kebetulan harus pakai helm. Saya bingung harus pinjam sama siapa, karena helm di tempat saya nge-Kost lagi dipake jalan-jalan semua sama anak kos. Nasib gag punya helm, hobinya pasti minjem helm melulu. Biasa anak rantau dengan segala keterbatasannya. Karena kebetulan saya nebeng sama teman saya, jadi saya tanyain “Gimana ni, saya gag ada helm”. Teman saya jawab “Gag pa-pa, nanti kita nyelip-nyelip aja.. hehhehehe, ini kan udah sore jarang ada polisi”. Sayapun mengiyakan.
Kamipun akhirnya pergi ke kota dengan keadaan seadanya alias yang nebeng gag pake helm. Kalau ada lampu merah pasti bawaannya nunduk aja dibelakang teman alias menghindari dari yang namanya pak polisi. Dan luar biasanya lagi, banyak masyarakat yang mengendarai sepeda motor yang gag pake helm, jadi saya gag sendiri. Saya pun merasa tenang. Tak lama kemudian, kami pun melewati lampu merah kedua, saya melihat sesuatu yang berbeda, kebetulan hari itu saya lagi gag memakai kacamata (kacamata lagi direparasi) hehhhee... Saya pun bertanya ke teman saya “Eh, yang di ujung jalan sana ijo-ijo apa ya?”, teman saya yang lagi mengendarai diem aja dan melihat ke tempat yang saya tunjuk. Sebelum teman saya menjawab, saya sudah berbicara lagi “kok mirip baju rompi polisi ya, waduh, gimana ni, gag pake helm lagi, resiko ditilang ni” saya pun merasa was was, gelisah dan nunduk-nunduk di belakang teman saya. Teman saya yang sudah melihat itu otomatis tertawa dan bilang “gag usah paranoid kali la, liat sana sini uda kayak polisi semua, hahahahahah, itu yang ijo-ijo pamplet restoran yang dipasang dipinggir jalan, waduh, bahaya bawa orang matanya minus, hahaha”. Saya pun jadi malu sendiri, ikutan ketawa juga akhirnya, akibat minus mata yang saya alami.
Beberapa hari penelitian berlangsung aman dan sentosa. Sudah hampir seminggu saya penelitian. Tiba di hari ke-6 saya penelitian, hari itu saya penelitian pukul 10.30 pagi menjelang siang, dengan percaya diri dan seperti biasa saya tidak menggunakan helm untuk pergi penelitian ke Desa. Melewati lampu merah pertama yang sering kami lewati untuk menuju desa penelitian saya, terlihat ramai-ramainya orang disana. Saya dan teman saya pun biasa aja melihat kejadian itu. Kemudian secara mendadak dan ajaib, 1 sosok terlihat dengan gagahnya, dengan seragam coolnya, khas dengan rompi hijau dan topinya yang ouke banget (Sampe nganga liatnya, Masya Allah ), Sosok seorang polisi berdiri disamping jalan sedang memegang kamera mengamati sekitaran jalan di sekitar lampu merah. Tak jauh dari sosok itu ada beberapa orang dengan pakaian yang sama beserta mobil dan sepeda motor polisi yang keren abis ada disana. Waaaah, Dag..Dig..Dug.. Jegeerrr, hati saya berdebar kencang, keringat udah mulai mengalir, segal hal terpikirkan sepintas, memikirnya seribu alasan untuk mengungkapkan... Waduh, dalam hati sudah diaduk-aduk rasanya. Eh, Don’t Thinking about, That is Not Falling In Love on The First Sight, but on The Dangerous Sight. “Warning... Warning.. Warning” Alarm hati saya berbunyi hebat. Untungnya hanya saya dan Allah yang mendengar bunyinya, kalau ngak resiko mobil ambulan + kebakaran bakalan nyusul ke tempat kejadian perkara alias TKP tempat saya berada sekarang saudara-saudara. Hahahaha, efek berdebar-debar saat selalu berhadapan dengan Mr. Police sangat berbeda dirasakan lebih seperti rasa nano-nano, manis-asem-asin-pedas, enak rasanya, eh pahit rasanya. Ampun Mr. Police, Saya sadar, Saya Sadar. Kecemasan saya udah tingkat kronis tinggal tunggu waktunya aja.
Tepat pada saat itu lampu lalu lintas tiba-tiba merah, otomatis sepeda motor yang saya tumpangi harus berhenti. Ampun, saya gag pake helm lagi. Tanpa sadar saya langsung turun dari sepeda motor. Temen saya yang lagi memboncengi saya merasa cemas ketika saya turun “ eh, mau kemana, kok turun”. Saya pun terus berjalan menuju Mr. Police yang berada di pinggir jalan dengan gagahnya dengan suara hati yang gag tau lagi berteriak atau lagi lompat-lompat. Hahahahaha,, udah kayak falling in love dengan Mr. Police ni. Ketika hampir mendekati Mr. Police dengan percaya dirinya saya melewatinya, seketika itu Mr. Police yang melihat tingkah laku aneh saya yang turun dari motor tiba-tiba saat lampu merah bertanya “eh dek, kok turun dari motor, takut sama saya ya ??”. Hati saya langsung berkecamuk, saya pun menjawab “gag pak, kebetulan saya memang mau turun disini, karena saya mau pergi kesana (menunjuk satu jalan yang berada di belakang Mr. Police itu)” .Saat menjawab saya menjadi salah tingkah dan cepat-cepat berlalu ke jalan yang saya tunjuk. Dan untungnya tidak diikuti oleh Mr. Police tersebut. 
Teman saya yang sedari tadi bengong melihat tingkah saya, setelah lampu lalu lintas sudah hijau menghampiri saya yang sedang berjalan sendirian, “eh, yuk naik, pak polisinya udah gag liat lagi tu”. Saya yang ditawari naik lagi jadi lemas sangking takutnya tadi dengan teguran Mr. Police yang gagah + garang. Ampun Mr. Police. Dengan polosnya saya berkata “ gag mau, pak polisinya masih ada, saya gag berani, pulang aja yuk saya mau pinjam helm dulu, taubat saya gag mau ngelanggar lalu lintas lagi”. Teman saya yang mendengar perkataan saya jadi senyum-senyum sendiri dan kami pun kembali pulang dan kemudian mengambil helm.
Semenjak hari itu (that’s the inspiring moment to me) , saya taubat dari melanggar aturan lalu lintas. Satu teguran singkat dari Mr. Police membuat saya merasa bersalah sebagai generasi muda yang tidak taat hukum. Satu teguran tersebut mengajarkan arti dari sebuah bukti faktanya kita masih tidak jujur dan patuh akan apa yang sudah diamanahkan kepada kita. Sebenarnya segala aturan yang diberikan kepada kita bertujuan untuk menjaga keamanan dan keselamatan kita sendiri. Dan kita gag perlu merasa cemas dan khawatir dengan Mr. Police, apabila kita benar dan tidak melanggar hukum, pastinya Mr and Miss. Police tidak akan menegur kita. Jadi jangan pernah melanggar, jadi kita juga tidak akan pernah ditegur oleh orang lain.
Untuk para pengendara yang budiman, baik yang ngendarain motor, ngendarain mobil, becak, bemo, angkot, sepeda, pesawat, dan de el el,,.... hehehehehe  jangan lupa untuk melengkapi surat-surat kendaraannya supaya terbukti sah dan layak pakai kendaraannya. Dan alat pengaman diri jangan lupa terutama bagi pengendara sepeda motor, helm sangat penting saat berkendara. Kepala kita dengan muatan yang luar biasa harus dilindungi dari segala macam cobaan (eh, hidup kali) dan bahaya yang mungkin mnyertai kita saat berkendara. Ayo kita jaga aset penting dalam hidup kita. Fighting .
SIAP JADI GENERASI TAAT LALU LINTAS 

Jendela Cahaya Arsy

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar